
Jakarta: Sejak tahun 1998, Reformasi telah memasuki tahun ke-25. Rahardjo Waluyo Jati, aktivis muda saat itu, mengaku sebagai salah satu korban penculikan 1998 namun kemudian dibebaskan.
Dia menjelaskan, penculikan dan penghilangan merupakan eskalasi politik sejak 1996. Awalnya, ada perebutan di kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), ujarnya.
“Kemudian melahirkan gerakan perlawanan yang tidak hanya politik formal dalam artian kepartaian saat itu. Itu persoalan internal PDI saat itu,” kata Rahardjo kepada Medcom.id, Sabtu, 20 Mei 2023.
Apa pendapat Anda tentang artikel ini?
Namun, kemudian, kata Rahardjo, persoalan itu meluas hingga menyeret sentimen politik publik. Menurutnya, hal itu merupakan gambaran politik saat rakyat menginginkan pergantian rezim.
“Sejak tahun 1965, rezim Suharto memang telah mencapai beberapa keberhasilan dalam membangun ekonomi riil. Mulai dari mengantre beras hingga makan bulgur, mendapatkan sembako yang cukup, hingga penyuluhan kesehatan, semuanya jalan terus,” terangnya.
Namun, dengan kesadaran politik yang terus meningkat, kemajuan sosial juga mengikuti. Masyarakat dianggap membutuhkan ruang demokrasi.
“Jadi saat itu, bukannya memberi ruang demokrasi, Soeharto justru menindasnya,” kata Rajazo.
Dari hasil itu muncul perlawanan, katanya. PDI dan kasus internalnya adalah titik awal bagi mereka yang ingin berubah, katanya.
“Nah, kalau kita mulai dari situ, saya dan teman-teman sudah oposisi sejak kami mahasiswa. Kami mulai mengorganisir petani, buruh, sesama seniman dan mahasiswa,” jelasnya.
Dia bilang dia membangun jaringan di sekitarnya. Jadi saat momentum muncul, Anda bisa langsung terjun dan terhubung karena sama-sama menginginkan perubahan.
“Tapi dalam proses itu, rezim Orde Baru memilih kelompok mana selain PDI yang dianggap berbahaya dan punya pengaruh politik. Pengaruh politik bukan hanya sekedar memberi struktur pada masyarakat. Kalau punya struktur, maka SPSI lebih penting dari saya. struktur dan teman-teman saya di Delta Sungai Mutiara (Partai Demokrasi Rakyat),” jelasnya.
Namun, masyarakat saat itu membutuhkan partai yang dianggap mampu berjuang. Salah satunya adalah PDI. Kemudian, kata dia, secara kebetulan, gerakan sosial di Delta Sungai Mutiara saat itu bisa menjadi contoh orde baru yang menggunakan trauma politik untuk menekan, yakni peristiwa 65.
“Makanya Delta Sungai Mutiara diidentikkan sebagai neo-PKI, dll. Jadi sebenarnya masih gaya lama Orde Baru, menstigmatisasi lawan politiknya, membuat orang takut untuk bergabung, karena ada pengalaman sejarah, 65 Insiden itu traumatis dan pelanggaran HAM berat,” jelasnya.
Namun, skenario yang dibayangkan dalam Operasi Orba tidak terwujud, katanya. Nyatanya, gelombang pasang massal belum mereda.
“Sebetulnya makin bergelombang di semua sektor, terutama di perkotaan,” kata Rahardjo.
Ia menjelaskan, saat itu terjadi keretakan di tubuh pemerintahan. Sebab, kata dia, ada gerakan anti sosial politik yang besar.
“Sehingga banyak yang beroperasi bisa dibilang sedikit, kemudian timbul persaingan antar unit,” katanya.
Sedemikian rupa sehingga banyak tim meluncurkan operasi melawan penghilangan paksa. Salah satunya, kata dia, adalah tim Kopasus, Tim Penanggulangan Terorisme (Gultor).
“Sebenarnya tim ini dibentuk sangat awal, tim Mawar. Ada beberapa tim, dan yang membawa saya sekarang adalah mawar yang diumumkan nanti. Tapi ada juga beberapa tim yang sudah bekerja sama sebelumnya,” kata Rajajo. .
Ia menyebutkan, selain dirinya, dulu ada Yani Afri, seorang militan dari PDI, yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Tak hanya itu, ada pula aktivis dari PPP bernama Dedi Hamdun.
“Dia dibawa kabur sama Noval Alkatiri. Sebenarnya dia bukan aktivis dalam artian politik, kebetulan dia pinjam mobilnya, lalu Dedi Hamdun dibawa kabur, semua yang ada di mobil itu diambil, ada Dedi Hamdum, Noval Alkatiri , dan seorang sopir bernama Sony, jika saya tidak salah ingat. Semua pergi dan tidak akan kembali lagi,” jelasnya.
Rahazo menjelaskan bahwa peristiwa itu mendahului penangkapan dan penangkapannya. Ia menuturkan, cerita tersebut dicomot dari cerita berantai yang dilakukan rekannya di tempat penahanan.
“Dari situ kita tahu Yani Afri, Dedi Hamdun dan Sony ditahan di tempat yang sama,” ujarnya.
Rahazo mengungkapkan, ada beberapa tim yang terlibat dalam penculikan dan orang hilang tersebut. Meski katanya ditangkap tim Mawar.
“Saya juga tidak tahu di mana (ditangkap) karena tidak dibangun kembali dan karena kelompoknya (diduga diculik) adalah Kopassus, dianggap ditahan di Mako Kopassus. Kalau ditanya, saya tidak mengerti, karena tidak pernah dibangun kembali,” katanya.
(OSZA)
Berita Kesehatan Terkini Hari ini
Berita Kesehatan
bpjs kesehatan
kesehatan
poster kesehatan
cek bpjs kesehatan
call center bpjs kesehatan
edabu bpjs kesehatan
protokol kesehatan
dinas kesehatan
iuran bpjs kesehatan
kesehatan mental
cek bpjs kesehatan dengan nik
kondisi kesehatan mental
cara cek bpjs kesehatan
tes kesehatan mental
cara daftar bpjs kesehatan
menteri kesehatan
kantor bpjs kesehatan terdekat
daftar bpjs kesehatan online
asuransi kesehatan
alat kesehatan
kartu bpjs kesehatan
toko alat kesehatan terdekat
kementerian kesehatan
daftar bpjs kesehatan
cara cek bpjs kesehatan di hp
contoh poster kesehatan
bpjs kesehatan login
logo kesehatan
cek tagihan bpjs kesehatan
kesehatan masyarakat
kantor bpjs kesehatan
toko alat kesehatan
pusat kesehatan masyarakat
cek iuran bpjs kesehatan
makanan yang lezat namun dapat membahayakan kesehatan hukumnya adalah
login bpjs kesehatan
poster tentang kesehatan
gambar poster kesehatan
cara membuat bpjs kesehatan
bpjs kesehatan online
hari kesehatan nasional
cek bpjs kesehatan online
antrian online bpjs kesehatan
pcare bpjs kesehatan
kalung kesehatan
lpse kesehatan
hari kesehatan mental sedunia
pantun kesehatan
cara cek bpjs kesehatan aktif atau tidak
artikel tentang kesehatan

